KESEHATAN LINGKUNGAN DENGAN PENDEKATAN EKOSISTEM
Oleh : HENDRI DUNAND
NPM : 13.13101.10.22
DOSEN PEMBIMBING : Prof. SUPLI EFFENDI RAHIM, Drs,MSc,PhD
A. KESEHATAN LINGKUNGAN
Kesehatan
adalah anugerah yang diberikan sang pencipta kepada hamba-Nya. Maka
hendaklah sebagai hamba-Nya kita berusaha menjaga dan memelihara
kesehatan kita. Karena kesehatan tidak ternilai harganya. Terkadang pada
saat kita sehat, kita lupa akan nikmat tersebut dan ketika sakit kita
baru sadar dan merasakan betapa kesehatan sungguh sangat berharga.
Kesehatan
lingkungan sangat penting untuk dijaga bersama dan harus ada kesadaran
dari tiap masyarakat dari semua kalangan betapa penting dan berharganya
kesehatan lingkungan.Kesehatan lingkungan merupakan faktor penting dalam
kehidupan sosial kemasyarakatan, bahkan merupakan salah satu unsur
penentu atau determinan dalam kesejahteraan penduduk. Di mana lingkungan
yang sehat sangat dibutuhkan bukan hanya untuk meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat, tetapi juga untuk kenyamanan hidup dan
meningkatkan efisiensi kerja dan belajar.
Kesehatan lingkungan sangat
berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Begitu pula kesehatan
lingkungan banyak dipengaruhi oleh taraf social ekonomi. Untuk mengelola
kualitas kesehatan lingkungan ataupun kesehatan masyarakat menjadi
bahasan tersendiri dalam ekologi manusia.
Kehidupan manusia
berpengaruh terhadap lingkungan, begitu juga sebaliknya lingkungan
berpengaruh terhadap manusia. Kemampuan manusia untuk mengubah atau
memodifikasi lingkungannya tergantung sekali pada taraf social
budayanya. Masyarakat memiliki tingkat kemajuan social ekonomi yang yang
berbeda-beda. Kita mengenal masyarakat tradisional dan masyarakat
modern, masyarakat tradisional sangat tergantung kepada tradisi yang
diwariskan dari nenek moyangnya. Sedangkan masyarakat modern
memilikikemajuan dalam bidang social dan ekonomi serta ilmu dan
teknologi. Masyarakat yang masih tradisional hanya mampu membuka hutan
secukupnya untuk memberi perlindungan pada masyarakatnya. Sedangkan
masyarakat yang sudah maju social ekonomi dan budayanya dapat mengubah
lingkungan hidup sampai ke taraf yang tidak bisa dikembalikan lagi
kepada kondisi semula (irreversible), sehingga terjadi perubahan
lingkungan yang sangat drastis. Sawah-sawah dirubah menjadi perumahan
dan gedung perkatoran, hutan-hutan dirubah menjadi sebuah daerah
pemukiman dalam waktu yang singkat, gunung-gunung dibelah menjadi jalan.
Manusia
memiliki keinginan yang besar untuk memamfaatkan sumber alam.
Modisfikasi lingkungan dengan tujuan memperbaiki nasib manusia tidak
selalu berhasil dengan baik bila tidak diperhatikan proses-proses yang
terjadi di dalam ekosistem yang mengikuti perubahan-perubahan tersebut.
Apabila modifikasi lingkungan dilakukan sedemikian rupa sehingga alam
tidak dapat lagi mempertahankan keseimbangnannya, maka akan terjadi
hal-hal yang tidak kita inginkan. Misalnya, banjir lumpur panas di
Sidoarjo Jawa timur akibat pengeboran minyak bumi yang menyalahi
ketentuan, atau banjir bandang akibat adanya penebangan hutan yang tidak
terkendali.
Contoh lain, manusia sebagai mahluk hidup selain
mendayagunakan unsur-unsur dari alam, ia juga membuang kembali segala
sesuatu yang tidak dipergunakannya lagi kembali ke alam. Tindakan ini
akan berakibat buruk terhadap manusia apabila jumlah buangan sudah
terlampau banyak sehingga alam tidak lagi dapat membersihkan
keseluruhannya (proses self purification terlampaui). Dengan demikian,
terjadi pengotoran lingkungan dan sumber daya alam yang sangat dibutuhan
untuk kehidupan manusia. Sebagai akibatnya manusia akan mengalami
gangguan kesehatan.
1. Definisi
Ada beberapa definisi dari kesehatan lingkungan :
1)
Menurut WHO (World Health Organization), kesehatan lingkungan adalah
suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan
agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia.
2) Menurut HAKLI
(Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia) kesehatan lingkungan
adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologi
yang dinamis antara manusia dan lingkungannya untuk mendukung
tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan bahagia.
3)
Kesehatan lingkungan adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara
lingkungan dengan kesehatan manusia, tumbuhan, dan hewan dengan tujuan
untuk meningkatkan faktor lingkungan yang menguntungkan dan
mengendalikan faktor yang merugikan.
2. Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan
Menurut World Health Organization (WHO) ada 17 ruang lingkup kesehatan lingkungan, yaitu :
a. Penyediaan Air Minum.
b. Pengelolaan air Buangan dan pengendalian pencemaran.
c. Pembuangan Sampah Padat.
d. Pengendalian Vektor.
e. Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia.
f. Higiene makanan, termasuk higiene susu.
g. Pengendalian pencemaran udara.
h. Pengendalian radiasi.
i. Kesehatan kerja.
j. Pengendalian kebisingan.
k. Perumahan dan pemukiman.
l. Aspek kesling dan transportasi udara.
m. Perencanaan daerah dan perkotaan.
n. Pencegahan kecelakaan.
o. Rekreasi umum dan pariwisata.
p. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi/wabah, bencana alam dan perpindahan penduduk.
q. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.
Di
Indonesia, ruang lingkup kesehatan lingkungan diterangkan dalam Pasal
22 ayat (3) UU No 23 tahun 1992 ruang lingkup kesehatan lingkungan ada
8, yaitu :
1) Penyehatan Air dan Udara.
2) Pengamanan Limbah padat/sampah.
3) Pengamanan Limbah cair.
4) Pengamanan limbah gas.
5) Pengamanan radiasi.
6) Pengamanan kebisingan.
7) Pengamanan vektor penyakit.
8) Penyehatan dan pengamanan lainnya, sepeti keadaan pasca bencana.
3. Sasaran Kesehatan Lingkungan
Menurut Pasal 22 ayat (2) UU 23/1992, Sasaran dari pelaksanaan kesehatan lingkungan adalah sebagai berikut :
1) Tempat umum : hotel, terminal, pasar, pertokoan, dan usaha-usaha yang sejenis.
2) Lingkungan pemukiman : rumah tinggal, asrama/yang sejenis.
3) Lingkungan kerja : perkantoran, kawasan industri/yang sejenis.
4) Angkutan umum : kendaraan darat, laut dan udara yang digunakan untuk umum.
5)
Lingkungan lainnya : misalnya yang bersifat khusus seperti lingkungan
yang berada dlm keadaan darurat, bencana perpindahan penduduk secara
besar2an, reaktor/tempat yang bersifat khusus.
4. Masalah-Masalah Kesehtan Lingkungan Di Indonesia
Masalah
Kesehatan lingkungan merupakan masalah kompleks yang untuk mengatasinya
dibutuhkan integrasi dari berbagai sector terkait. Di Indonesia
permasalah dalam kesehatan lingkungan antara lain :
1) Air Bersih.
Air
bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang
kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah
dimasak. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan
dan dapat langsung diminum.
Syarat-syarat Kualitas Air Bersih diantaranya adalah sebagai berikut :
Ø Syarat Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna.
Ø Syarat Kimia : Kadar Besi : maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, Kesadahan (maks 500 mg/l).
Ø Syarat Mikrobiologis : Koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air).
2) Pembuangan Kotoran/Tinja.
Metode pembuangan tinja yang baik yaitu dengan jamban dengan syarat sebagai berikut :
Ø Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi.
Ø Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata air atau sumur.
Ø Tidak boleh terkontaminasi air permukaan.
Ø Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain.
Ø Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar ; atau, bila memang benar-benar diperlukan, harus dibatasi seminimal mungkin.
Ø Jamban harus babas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang.
Ø Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal.
3) Kesehatan Pemukiman.
Secara umum rumah dapat dikatakan sehat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :
Ø
Memenuhi kebutuhan fisiologis, yaitu : pencahayaan, penghawaan dan
ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu.
Ø Memenuhi kebutuhan psikologis, yaitu : privacy yang cukup, komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah.
Ø
Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antarpenghuni rumah
dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga,
bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak
berlebihan, cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan minuman
dari pencemaran, disamping pencahayaan dan penghawaan yang cukup.
Ø
Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul
karena keadaan luar maupun dalam rumah antara lain persyaratan garis
sempadan jalan, konstruksi yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar,
dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir.
4) Pembuangan Sampah.
Teknik pengelolaan sampah yang baik dan benar harus memperhatikan faktor-faktor /unsur, berikut:
Ø
Penimbulan sampah. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sampah
adalah jumlah penduduk dan kepadatanya, tingkat aktivitas, pola
kehidupan/tk sosial ekonomi, letak geografis, iklim, musim, dan kemajuan
teknologi.
Ø Penyimpanan sampah.
Ø Pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan kembali.
Ø Pengangkutan.
Ø Pembuangan
Dengan
mengetahui unsur-unsur pengelolaan sampah, kita dapat mengetahui
hubungan dan urgensinya masing-masing unsur tersebut agar kita dapat
memecahkan masalah-masalah ini secara efisien.
5) Serangga dan Binatang Pengganggu.
Serangga
sebagai reservoir (habitat dan suvival) bibit penyakit yang kemudian
disebut sebagai vektor misalnya : pinjal tikus untuk penyakit
pes/sampar, Nyamuk Anopheles sp untuk penyakit Malaria, Nyamuk Aedes sp
untuk Demam Berdarah Dengue (DBD), Nyamuk Culex sp untuk Penyakit Kaki
Gajah/Filariasis. Penanggulangan/pencegahan dari penyakit tersebut
diantaranya dengan merancang rumah/tempat pengelolaan makanan dengan rat
proff (rapat tikus), Kelambu yang dicelupkan dengan pestisida untuk
mencegah gigitan Nyamuk Anopheles sp, Gerakan 3 M (menguras mengubur dan
menutup) tempat penampungan air untuk mencegah penyakit DBD, Penggunaan
kasa pada lubang angin di rumah atau dengan pestisida untuk mencegah
penyakit kaki gajah dan usaha-usaha sanitasi.
Binatang pengganggu
yang dapat menularkan penyakit misalnya anjing dapat menularkan penyakit
rabies/anjing gila. Kecoa dan lalat dapat menjadi perantara perpindahan
bibit penyakit ke makanan sehingga menimbulakan diare. Tikus dapat
menyebabkan Leptospirosis dari kencing yang dikeluarkannya yang telah
terinfeksi bakteri penyebab.
6) Makanan dan Minuman
Sasaran
higene sanitasi makanan dan minuman adalah restoran, rumah makan, jasa
boga dan makanan jajanan (diolah oleh pengrajin makanan di tempat
penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual
bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan/restoran, dan
hotel).
Persyaratan hygiene sanitasi makanan dan minuman tempat pengelolaan makanan meliputi :
Ø Persyaratan lokasi dan bangunan.
Ø Persyaratan fasilitas sanitasi.
Ø Persyaratan dapur, ruang makan dan gudang makanan.
Ø Persyaratan bahan makanan dan makanan jadi.
Ø Persyaratan pengolahan makanan.
Ø Persyaratan penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi.
Ø Persyaratan peralatan yang digunakan.
Ø Pencemaran Lingkungan
Pencemaran
lingkungan diantaranya pencemaran air, pencemaran tanah, pencemaran
udara. Pencemaran udara dapat dibagi lagi menjadi indoor air pollution
dan out door air pollution. Indoor air pollution merupakan problem
perumahan/pemukiman serta gedung umum, bis kereta api, dll. Masalah ini
lebih berpotensi menjadi masalah kesehatan yang sesungguhnya, mengingat
manusia cenderung berada di dalam ruangan ketimbang berada di jalanan.
Diduga akibat pembakaran kayu bakar, bahan bakar rumah tangga lainnya
merupakan salah satu faktor resiko timbulnya infeksi saluran pernafasan
bagi anak balita. Mengenai masalah out door pollution atau pencemaran
udara di luar rumah, berbagai analisis data menunjukkan bahwa ada
kecenderungan peningkatan. Beberapa penelitian menunjukkan adanya
perbedaan resiko dampak pencemaran pada beberapa kelompok resiko tinggi
penduduk kota dibanding pedesaan. Besar resiko relatif tersebut adalah
12,5 kali lebih besar. Keadaan ini, bagi jenis pencemar yang akumulatif,
tentu akan lebih buruk di masa mendatang. Pembakaran hutan untuk dibuat
lahan pertanian atau sekedar diambil kayunya ternyata membawa dampak
serius, misalnya infeksi saluran pernafasan akut, iritasi pada mata,
terganggunya jadual penerbangan, terganggunya ekologi hutan.
Lingkungan
sangat luas cakupannya. Lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang ada
di sekitar. Menurut kebutuhan, lingkungan dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:
Ø Lingkungan hidup (biotis) dan lingkungan tak hidup (abiotis).
Ø Lingkungan alamiah dan lingkungan buatan.
Ø Lingkungan prenatal dan lingkungan post natal.
Ø Lingkungan biosfir dan lingkungan psikososial.
Ø
Lingkungan air (hidrosfir), lingkungan udara (atmosfir), lingkungan
tanah (litosfir), lingkungan biologi (biosfir), dan lingkungan sosial
(sosiosfir).
Ø Kombinasi dari klasifikasi-klasifikasi tersebut.
B. EKOSISTEM
Keseimbangan
suatu ekosistem akan terjadi, bila komponen-komponennya dalam jumlah
yang berimbang. Komponen-komponen ekosistem mencakup : Faktor Abiotik,
Produsen, Konsumen, Detritivora, dan Dekomposer (Pengurai). Di antara
komponen-komponen ekosistem terjadi terjadi interaksi, saling
membutuhkan dan saling memberikan apa yang menjadi sumber
penghidupannya. Kita tidak dapat menyangkalnya, bahwa penyokong
kehidupan di dunia adalah diciptakannya oleh Allah mula-mula faktor
abiotik yang menyokong kehidupan tumbuh-tumbuhan sebagai produsen;
kemudian tumbuh-tumbuhan menjadi penyokong kehidupan organisme lainnya
(binatang dan manusia) sebagai konsumen maupun detritivora, dan akhirnya
decomposer (bakteri dan jamur) mengembalikan unsur-unsur pembentuk
makhluk hidup kembali ke alam lagi menjadi faktor-faktor abiotik;
demikian seterusnya terjadilah daur ulang materi dan aliran energi di
alam secara seimbang. Sumber energi untuk kehidupan di bumi adalah
energi matahari, kemudian diikat dan digunakan oleh tumbuhan untuk
mensintesis zat-zat anorganik sederhana menjadi zat-zat organic yang
mengandung energi. Kandungan materi dan energi dari tumbuhan tersebut
dipindahkan ke hewan atau manusia melalui proses rantai makanan dan
jaring-jaring kehidupan, yang akhirnya materi dan energi kembali beredar
lagi ke alam melalui proses pembusukan/perombakan yang dilakukan oleh
dekomposer/pengurai.
Adanya saling ketergantungan antara faktor
abiotik dengan faktor biotik, dan hubungan antar komponen di dalam
faktor biotik sendiri, menunjukkan bahwa kehidupan manusia bergantung
kepada kehidupan makhluk lainnya maupun kehidupan antar manusia sendiri.
Pelajaran ini memberikan petunjuk bahwa manusia tidak bias
menyombongkan diri atau tidak merasa butuh terhadap lainnya, apalagi
manusia sebagai insane sosial sehingga tidak sepantasnya manusia yang
satu membunuh manusia lainnya. Sebagai manusia adalah tidak berhak
mencabut hak orang lain, kecuali kehendak dari Allah.
Faktor abiotik
sangat menentukan dalam sebaran dan kepadatan organisme dalam suatu
daerah. Hal ini berkaitan erat dengan masalah adaptasi dan suksesi
organism terhadap faktor-faktor lingkungannya. Adaptasi adalah suatu
kemampuan makhluk hidup menyesuaikan diri terhadap kondisi
lingkungannya; bisa melalui adaptasi morfologi, fisiologi dan adaptasi
perilaku dari organisme yang berada dalam lingkungan yang ditempatinya.
Adaptasi : (L. adaptare = menyesuaikan kepada, mencocokkan diri) Suatu
proses menyesuaikan diri organisme terhadap lingkungannya, mencakup tiga
jenis, yaitu:
1. Adaptasi Morfologis.
Suatu jenis adaptasi
menyangkut perubahan bentuk struktur tubuhnya disesuaikan dengan
lingkungan hidupnya. Misalnya: Ikan bergerak dengan sirip, karena alat
gerak yang cocok untuk hidup perairan adalah sirip, sedangkan hewan yang
hidupnya di darat bergerak dengan kaki-kakinya. Pada golongan tumbuhan
yang hidupnya di rawa pantai, ia memiliki buah/biji yang sudah berakar
sebelum jatuh ke lumpur pantai agar dapat terus tumbuh di lingkungan
tersebut, seperti golongan Rhizophora (tumbuhan bakau).
2. Adaptasi Fisiologis.
Suatu
jenis adaptasi menyangkut perubahan kerja faal organ tubuh disesuaikan
dengan lingkungan hidupnya. Misalnya, golongan Amphibia semasa larva
yang hidup di air bernapas dengan insang, sedangkan setelah dewasa hidup
di darat bernapas dengan paru-paru. Pada tumbuhan adaptasi fisiologi
ditunjukkan oleh luas permukaan daun-daunnya sehubungan dengan
lingkungan hidupnya, seperti: tumbuhan serofit (hidup di gurun/ daerah
kering, seperti kaktus) memiliki daun-daunnya serupa duri atau sempit
saja, sedangkan tumbuhan hidrofit (hidup di air, seperti eceng gondok)
memiliki daun-daunnya berukuran lebar-lebar dan batangnya berongga untuk
mengimbangi kadar air tubuhnya dengan masalah penguapan yang terjadi.
3. Adaptasi Perilaku.
Suatu
jenis penyesuaian diri pada makhluk hidup yang ditunjukkan oleh
perilakunya disebabkan oleh factor lingkungan. Contohnya, perubahan
warna tubuh bunglon terhadap warna lingkungan di mana ia berada; bunglon
berwarna hijau, jika berada di daun-daunan, dan ia berwarna hitam
keabu-abuan jika berada di tanah. Contoh lainnya, lumba-lumba memiliki
kebiasaan meloncat-loncat di atas permukaan air untuk menghirup udara,
karena bernapas menggunakan paru-paru.
I. Hubungan Faktor Abiotik dengan Abiotik.
Dalam
Al-Quran Surat As-Sajadah ayat 27 tersebut di sebutkan bahwa air
mempengamhi keadaan tanah menjadi subur atau tandus. Tanah menjadi subur
apabila terdapat cukup air yang berguna untuk menumbuhkan berbagai
tumbuh-tumbuhan, yang mendukung kehidupan suatu organisme lainnya (hewan
dan manusia). Keadaan curah hujan adalah menentukan kesuburan suatu
lahan pertanahan di dunia, air sebagai sumber kehidupan dapat kita
kenali diberbagai daerah di dunia, seperti:
Ø Gurun : daerah yang
sangat sedikit curah hujannya, sangat sedikit bentuk-bentuk kehidupan
organismenya. Tumbuhan yang bisa tumbuh di daerah ini secara alami
adalah jenis kaktus dengan bentuk daunnya yang rudimenter dan batangnya
berklorofil.
Ø Hutan Tropis: daerah yang sangat tinggi curah
hujannya; di sini sangat banyak ditemukan keanekaragaman tumbuhan yang
berdaun lebar guna mengimbangi kadar air tubuhnya.
Air
sebagai sumber kehidupan di planet bumi atau planet lain disebutkan
dalam berbagai surat Al-Quran lainnya, seperti: Ar- Rum (30): 24, Lukman
(31): 10, Faathir (35): 27, dan lain-lain. Tubuh makhluk hidup sebagian
besar komposisinya adalah air. Peranan air bagi kehidupan sangat banyak
dari mulai sebagai sumber kehidupan sampai kepada keperluan kegiatan
sehari-hari seperti untuk minum, mandi, mencuci, dan sebagainya. Bagi
tumbuhan air diperlukan untuk kegiatan fotosintesis, alat pengangkutan
zat, dan kegiatan metabolisme tubuhnya.
II. Hubungan Faktor Biotik dengan Biotik.
Kehidupan
suatu organisme tidak bisa sendiri-sendiri, tetapi bergantung kepada
organisme lainnya, baik untuk kepentingan sumber-sumber penghidupannya
atau makanan, perkembangbiakan, maupun sebagai habitat (tempat tinggal).
Untuk mendapatkan sumber-sumber penghidupan tersebut, terjadilah
interaksi antara organism yang satu dengan organisme lainnya melalui apa
yang disebut "Rantai Makanan" dan "Jaring-Jaring Makanan" di alam,
sehingga makhluk hidup bisa mempertahankan kehidupan dan penghidupannya
di bumi. Al-Quran Surat As-Sajadah ayat 27 itupun menggambarkan adanya
Rantai Makanan. Adapun Jaring-Jaring Makanan, yaitu perluasan dari
Rantai Makanan, yang setiap mata rantainya bisa bercabang-cabang dan
berhubungan satu sama lain hingga membentuk seperti bangun jaring yang
memperlihatkan proses makan di antara organisme di alam.
Kehidupan
lebah merupakan contoh kehidupan organisme yang tidak merusak lingkungan
dan bersifat menguntungkan kepada lainnya. Dalam mencari makan ia tidak
memakan makanan yang kotor, tetapi makanan yang bersih (halal).
Demikian pula ia mendatangi bunga yang satu ke bunga lainnya adalah
tidak merusakkan ranting-ranting tumbuhan yang dihinggapinya.
Selanjutnya kehidupan lebah bersifat menguntungkan atau berguna bagi
lainnya, karena ia dapat membantu penyerbukan bunga-bunga tumbuhan dan
menghasilkan madu yang sangat penting bagi dunia kesehatan atau
pengobatan suatu penyakit, dan dikenal sebagai penghasil royal jelly.
Tetapi bila lebah ini diganggunya, maka ia tidak segan-segan akan
mengejarnya dan membalasnya dengan sengatan yang pedih.
III. Hubungan Faktor Abiotik dengan Biotik.
Dalam
uraian di atas sudah dikemukakan bahwa air sebagai sumber kehidupan,
karena adanya air dapat menyuburkan suatu lahan pertanahan untuk
menumbuhkan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi bahan
makanan hewan maupun manusia. Bagian di permukaan bumi yang bisa didiami
oleh makhluk hidup atau adanya kehidupan suatu organisme disebut
Biosfer. Daerah-daerah tertentu yang memperlihatkan dominasi populasi
atau komunitas tertentu disebut Bioma, seperti daerah tundra, stepa,
savana, taiga, gurun, hutan tropis, dan sebagainya. Adapun lingkungan
abiotik yang cocok bagi adaptasi dan suksesi suatu organism disebut
Habitat, dan habitat khusus bagi suatu populasi disebut Niche atau
Nicchia. Populasi yang sama dapat menempati satu Niche, tetapi populasi
yang berbeda tidak bisa menempati satu Niche, karena akan menimbulkan
persaingan hidup. Pada uraian di atas ditunjukkan bahwa faktor abiotik
merupakan penyokong kehidupan makhluk hidup, dimulai dari tumbuhan
sebagai Produsen, kemudian hewan manusia sebagai Konsumen, maupun
organisme lainnya yang berfungsi sebagai Detritivora dan
Dekomposer/Pengurai. Tumbuh-tumbuhan sebagai Produsen tampaknya
merupakan jenis makanan yang pertama ada untuk jenis organisme lainnya,
termasuk oleh manusia. Hubungan faktor Biotik dengan Biotik terjadi,
karena pada dasarnya setiap organism tidak bisa hidup sendiri, tetapi
bergantung kepada lainnya. Adanya ketergantungan antar organisme ini
disebabkan oleh kebutuhan hidup, seperti mendapatkan makanan, perkembang
biakannya, tempat tinggal (habitat), dsb.
C. Kesehatan Lingkungan dengan Pendekatan Ekosistem
Sesuai
dengan definisi kesehatan lingkungan menurut WHO (World Health
Organization), kesehatan lingkungan adalah suatu keseimbangan ekologi
yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat menjamin keadaan
sehat dari manusia dan menurut HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan
Lingkungan Indonesia) kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi
lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara
manusia dan lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup
manusia yang sehat dan bahagia maka jelas sekali telihat bahwa kita
tidak akan dapat mewujudkan lingkungan yang sehat jika kita tidak mampu
mengenali ekosistem disekitar kita dengan baik. Hal tersebut dikarenakan
ekosistem adalah suatu tatanan dan kesatuan yang secara utuh dan
menyeluruh di antara segenap komponen lingkungan hidup. Komponen ini
saling berinteraksi dan pada akhirnya membentuk kesatuan yang teratur
dan dinamis. Selain itu di dalam ekosistem juga terdapat aliran materi
(semua hal yang memiliki massa dan juga mampu menempati ruang) juga
energi. Kedua komponen yakni produsen dan juga konsumen pada akhirnya
membentuk aliran energi atau yang biasa disebut rantai makanan.
Kemudian, komponen ketiga dalam ekosistem yakni pengurai akan mendaur
materi tersebut. Dalam sebuah ekosistem, keberadaannya ditopang oleh
aliran energi atau rantai makanan ini. Aliran tersebut mengalir ke
rantai yang satu dan lainnya secara runut.
D. DAFTAR PUSTAKA
Soemirat, Juli, 2000, Kesehatan Lingkungan, Jogjakarta : Gadjah Mada University\Press
Nursyid Sumaatmadja, 2002, Pendidikan Pemanusiaan Manusia Manusiawi, Bandung : Alfabeta
Tim MKDU UPI, 2005 Pendidikan Lingkungan Sosial Budaya dan Teknologi, Bandung : Value Press
http://kesling.ph-gmu.org/berita-85-kesehatan-lingkungan.html
http://ekosistem-ekologi.blogspot.com/2013/02/mencermati-pengertian-ekosistem.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar