ETIKA DAN NILAI LINGKUNGAN
HENDRI DUNAND
NPM : 13.13101.10.22
DOSEN : Prof. SUPLI EFFENDI RAHIM, PhD, MSc
Tiga Teori Etika Lingkungan:
Egosentris, Homosentris, dan Ekosentris
Teori
etika lingkungan hidup ini diharapkan mampu menimbulkan pemahaman baru
terhadap masalah lingkungan hidup yang tidak terpisah dari kosmologi
tertentu yang dalam kenyataannya tidak menumbuhkan sikap eksploitatif
terhadap alam lingkungan. Pengembangan etika lingkungan hidup diperlukan
utuk mengendalikan adanya perubahan secara mendasar dari pandangan
kosmologi yang menumbuhkan sikap hormat dan bersahabat dengan alam
lingkungan (J. Sudriyanto, 1992:13).
Krisis ekologi dewasa ini telah
meluas dan sangat berpengaruh pada pandangan kosmologi yang menimbulkan
eksploitasi terhadap lingkungan. Relevansi pemikiran untuk memberikan
landasan filosofis yang lebih mahal dan cocok semakin diperlukan.
Semuanya ini terfokus pada manusia, sebagai peletak dasar dari semua
permasalahan ini, serta mencari kedudukannya dalam seluruh keserasian
alam yang menjadi lingkungan hidupnya. Maka, suatu etika yang mampu
memberi penjelasan dan pertanggungjawaban rasional tentang nilai-nilai,
asas dan norma-norma moral bagi perilaku manusia terhadap alam
lingkungan ini akan sulit didapatkan tanpa melibatkan manusia.
Masalah
ekologi tidak cukup dihadapi dengan mengembangkan etika lingkungan
hidup. Kalau sudah menyangkut kesejahteraan masyarakat, pemikiran etis
saja tidak akan berdaya tanpa didukung oleh aturan-aturan hukum yang
dapat menjamin pelaksanaan dan menindak pelanggarnya. Untuk itu perlu
diketahui berbagai teori yang membangun pemikiran tentang etika
lingkungan hidup.
(J. Sudriyanto, 1992:13).
1. Etika Egosentris
Etika
yang mendasarkan diri pada berbagai kepentingan individu (self).
Egosentris didasarkan pada keharusan individu untuk memfokuskan diri
dengan tindakan apa yang dirasa baik untuk dirinya. Egosentris mengklaim
bahwa yang baik bagi individu adalah baik untuk masyarakat. Orientasi
etika egosentris bukannya mendasarkan diri pada narsisisme, tetapi lebih
didasarkan pada filsafat yang menitikberatkan pada individu atau
kelompok privat yang berdiri sendiri secara terpisah seperti “atom
sosial” (J. Sudriyanto, 1992:4)
Inti dari pandangan egosentris ini, Sonny Keraf (1990:31) menjelaskan:
Bahwa
tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar
kepentingan pribadi dan memajukan diri sendiri. Dengan demikian, etika
egosentris mendasarkan diri pada tindakan manusia sebagai pelaku
rasional untuk memperlakukan alam menurut insting “netral”. Hal ini
didasarkan pada berbagai pandangan “mekanisme” terhadap asumsi yang
berkaitan dengan teori sosial liberal.
Pengetahuan mekanistik
didasarkan pada asumsi bahwa segala sesuatu merupakan bagian yang
berdiri sendiri secara terpisah. Atom-atom merupakan komponen riil dari
alam. Begitu juga manusia yang merupakan komponen riil dari masyarakat.
Keseluruhan
adalah penjumlahan dari bagian-bagian. Hukum identitas logika (A=A)
mendasari penggambaran alam secara matematis. Demikian pula masyarakat,
yang tidak lain merupakan penjumlahan dari banyak pelaku rasional
individu. Mekanisme mempunyai asumsi bahwa banyak sebab eksternal
berlaku dalam berbagai bagian internal. Serupa dengan masyarakat, hukum
dan berbagai aturan yang dipaksakan oleh penguasa akan ditaati oleh
rakyat secara positif.
Perubahan dapat terjadi dengan cara menyusun
kembali bagian-bagiannya. Bangunan tuntutan masyarakat ditentukan oleh
bagian-bagiannya.
Ilmu mekanis selalu dualistik, seperti, pengetahuan
mekanis menempatkan bagian individu sebagai komponen utama dalam
pembangunan timbul korporat. Etika egosentris menempatkan manusia
sebagai individu paling utama dalam pembangunan lingkungan sosial (J.
Sudriyanto, 1992:15).
2. Etika Homosentris
Etika homosentris
mendasarkan diri pada kepentingan sebagian masyarakat. Etika ini
mendasarkan diri pada berbagai model kepentingan sosial dan pendekatan
antara pelaku lingkungan yang melindungi sebagian besar masyarakat
manusia.
Etika homosentris sama dengan etika utilitarianisme, jadi,
jika etika egosentris mendasarkan penilaian baik dan buruk suatu
tindakan itu pada tujuan dan akibat tindakan itu bagi individu, maka
etika utilitarianisme ini menilai baik buruknya suatu tindakan itu
berdasarkan pada tujuan dan akibat dari tindakan itu bagi sebanyak
mungkin orang. Etika homosentris atau utilitarianisme ini sama dengan
universalisme etis. Disebut universalisme karena menekankan akibat baik
yang berguna bagi sebanyak mungkin orang dan etis karena ia menekankan
akibat yang baik. Disebut utilitarianisme karena ia menilai baik atau
buruk suatu tindakan berdasarkan kegunaan atau manfaat dari tindakan
tersebut (Sonny Keraf, 1990:34).
Seperti halnya etika egosentris,
etika homosentris konsisten dengan asumsi pengetahuan mekanik. Baik alam
mau pun masyarakat digambarkan dalam pengertian organis mekanis. Dalam
masyarakat modern, setiap bagian yang dihubungkan secara organis dengan
bagian lain. Yang berpengaruh pada bagian ini akan berpengaruh pada
bagian lainnya. Begitu pula sebaliknya, namun karena sifat uji yang
utilitaris, etika utilitarianisme ini mengarah pada pengurasan berbagai
sumber alam dengan dalih demi kepentingan dan kebaikan masyarakat (J.
Sudriyanto, 1990:16).
3. Etika Ekosentris
Etika ekosentris
mendasarkan diri pada kosmos. Menurut etika ekosentris ini, lingkungan
secara keseluruhan dinilai pada dirinya sendiri. Etika ini menurut
aliran etis ekologi tingkat tinggi yakni deep ecology, adalah yang
paling mungkin sebagai alternatif untuk memecahkan dilema etis ekologis.
Menurut ekosentrisme, hal yang paling penting adalah tetap bertahannya
semua yang hidup dan yang tidak hidup sebagai komponen ekosistem yang
sehat, seperti halnya manusia, semua benda kosmis memiliki tanggung
jawab moralnya sendiri (J. Sudriyanto, 1992:243)
Menurut etika ini,
bumi memperluas berbagai ikatan komunitas yang mencakup “tanah, air,
tumbuhan dan binatang atau secara kolektif, bumi”. Bumi mengubah perah
“homo sapiens” dari makhluk komunitas bumi, menjadi bagian susunan warga
dirinya. terdapat rasa hormat terhadap anggota yang lain dan juga
terhadap komunitas alam itu sendiri (J. Sudriyanto, 1992:2-13). Etika
ekosentris bersifat holistik, lebih bersifat mekanis atau metafisik.
Terdapat lima asumsi dasar yang secara implisit ada dalam perspektif
holistik ini, J. Sudriyanto (1992:20) menjelaskan:
Segala sesuati itu
saling berhubungan. Keseluruhan merupakan bagian, sebaliknya perubahan
yang terjadi adalah pada bagian yang akan mengubah bagian yang lain dan
keseluruhan. Tidak ada bagian dalam ekosistem yang dapat diubah tanpa
mengubah dinamika perputarannya. Jika terdapat banyak perubahan yang
terjadi maka akan terjadi kehancuran ekosistem.
Keseluruhan lebih
daripada penjumlahan banyak bagian. Hal ini tidak dapat disamakan dengan
konsep individu yang mempunyai emosi bahwa keseluruhan sama dengan
penjumlahan dari banyak bagian. Sistem ekologi mengalami proses
sinergis, merupakan kombinasi bagian yang terpisah dan akan menghasilkan
akibat yang lebih besar daripada penjumlahan efek-efek individual.
Makna
tergantung pada konteksnya, sebagai lawan dari “independensi konteks”
dari “mekanisme”. Setiap bagian mendapatkan artinya dalam konteks
keseluruhan.
Merupakan proses untuk mengetahui berbagai bagian. Alam
manusia dan alam non manusia adalah satu. Dalam holistik tidak terdapat
dualisme. Manusia dan alam merupakan bagian dari sistem kosmologi
organik yang sama.
Uraian di atas akan mengantarkan pada sebuah
pendapat Arne Naess, seorang filsuf Norwegia bahwa kepedulian terhadap
alam lingkungan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: Kepedulian
lingkungan yang “dangkal” (shallow ecology) dan Kepedulian lingkungan
yang “dalam” (deep ecology).
Kepedulian ekologis ini sering disebut
altruisme platener holistik, yang beranggapan bahwa hal ini memiliki
relevansi moral hakiki, bukan tipe-tipe pengadu (termasuk individu atau
masyarakat), melainkan alam secara keseluruhan (J. Sudriyanto, 1992:22).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar